Kamis, 01 Desember 2011

Tulisan 2


Sejarah Dunkin'Donuts … 

Sebuah Bisnis Yang Sangat Sukses  Pada tahun 1946, William Rosenberg memulai sebuah perusahaan yang dinamainya Industrial Luncheon Services, yang kegiatannya meliputi pengiriman makanan dan snack ke para pekerja di Boston dan area sekitarnya. Setelah melalui dua tahun yang sukses, ia membuka tempat yang dinamai Open Kettle, restoran kopi dan donat di Quincy, Massachusetts. Pada tahun 1950, Rosenberg mengubah nama kedainya menjadi Dunkin' Donuts, dan selanjutnya adalah sejarah emas.
Hanya butuh empat tahun baginya untuk membuka empat lokasi baru di area Boston, dan dengan semakin tenarnya  model bisnis waralaba meyakinkan dirinya bahwa  ini adalah suatu cara yang hebat untuk berekspansi lebih luas dan lebih cepat. Filsafatnya sangat simpel: "Buat kopi dan donat yang paling fresh dan paling lezat dengan penyajian yang cepat dan sopan di kedai  modern, yang ditata dengan apik." Karena usaha-usahanya, Dunkin' Donuts  menjadi jaringan bisnis yang paling besar di dunia dalam hal menyajikan kopi dan donat, menunya bahkan telah diperluas dari donat ke berbagai jenis kue, muffins, sandwich dan lain-lain.

                              Gambar : Gerai Dunkin' Donuts

Waralaba Menjadi Darahnya Rosenberg begitu semangat dengan konsep waralaba sehingga ia mendirikan International Franchise Association (IFA) pada tahun 1960. Meski IFA mempunyai efek yang relatif sedikit terhadap Dunkin' Donuts, IFA telah terbukti memberikan manfaat yang besar untuk pewaralaba dan perusahaan induk mereka.
Dunkin’ Donuts sendiri mulai masuk ke Indonesia pada tahun 1985, dengan gerai pertamanya di Jl. Hayam Wuruk, Jakarta Pusat. Sebenarnya, Dunkin’ Donuts bukan merupakan perusahaan donut multinasional pertama yang masuk ke Indonesia.  Di tahun 1968, American Donut merupakan perintis donat pertama yang digoreng dengan mesin otomatis di Pekan Raya Jakarta. Selain membuka gerainya di  pekan raya,  American Donut juga membuka gerainya di berbagai tempat di Jakarta.
Dewasa ini, organisasi ini melampaui lebih dari 30.000 anggota pewaralaba dan 800 perusahaan waralaba. Filsafat waralabanya membantu perusahaannya berekspansi pada dekade-dekade berikutnya, dan saat ini Dunkin' Donuts mempunyai lebih dari 6.700 lokasi di 29 negara; dari Aruba sampai UAE. Mereka mengaku melayani lebih dari 27 juta pelanggan dalam sehari! Rosenberg meninggal di tahun 2002 pada umur 86 tahun.
Di Indonesia Dunkin’ Donuts telah membuka 200 gerai lebih di kota-kota besar di seluruh Indonesia, seperti Medan, Yogyakarta, Bandung, Bali, Surabaya, Makassar, Jakarta, dan kota-kota lainnya di Indonesia. Dunkin’Donuts telah berhasil menjadi model dalam hal pelayanan serta konsep gerai yang dimilikinya. Bahkan Dunkin’Donuts terkadang dianggap sebagai bayang-bayang bagi perusahaan donut lainnya. Di Jogjakarta, Dunkin’ Donuts telah merambah ke mall-mall, swalayan serba ada, jalan-jalan di malioboro, hingga ke bookstore-bookstore seperti Gramedia.
Produk dan Iklanan Yang Masif dan Populer meski donat terus berada di daftar teratas dalam kepala setiap orang ketika mereka berpikir tentang Dunkin' Donuts, perusahaan ini juga telah mengukir namanya pada bisnis kopi. Dunkin’ Donuts merupakan pedagang ritel paling luas di Amerika untuk kopi yang dijual per cangkir, mereka melayani hampir suatu milyar cangkir untuk tiap-tiap tahunnya. Kira-kira sebanding dengan 30 cangkir per detik!
Ada suatu semangat kepeloporan pada Dunkin' Donuts dalam hal menciptakan produk-produk donat tipe baru. Perusahaan mengusulkan Munchkins pada tahun 1972, yang berbentuk kecil, bola sebesar "lubang donat" yang dicelupkan dalam berbagai balutan selai atau krim. Lebih dari 700 juta Munchkins dijual tiap tahunnya.
Satu hal yang menjadi bagian penting dari Dunkin' Donuts adalah sejarah iklan televisi mereka yang sangat sukses. Perusahaan ini bekerja sama dengan klub-klub olah raga profesional di USA dan mengontrak premium bintang-bintang mereka.
Bersama Togo's (rantai penjualan sandwich) dan Baskin Robbins (perusahaan eskrim), Dunkin's Donuts saat ini merupakan bagian dari Dunkin's Brands Inc. Salah satu dari konsep waralaba yang populer pada masa lampau menjadikan ketiga perusahaan makanan tersebut berada di bawah satu atap. 

           
                               Gambar : Produk Dunkin' Donuts


·         Keuntungan Franchising Dunkin’Donuts bagi pemilik

  1.   Popularitas produk atau jasa sudah dikenal konsumen, menghemat biaya promosi. 
  2. Mendapatkan fasilitas-fasilitas manajemen tertentu sesuai dengan trainingyang dilakukan oleh franchiser. 
  3. Mendapatkan image sama dengan perusahaan induk.
  4. Produk atau jasa dikonsumsi dengan mutu yang sama.
  5. Bisnisnya bisa berkembang dengan cepat di banyak lokasi secara bersamaan, meningkatnya keuntungan dengan memanfaatkan investasi dari franchisee.

            ·         Dampak positif dari Franchising Dunkin’Donuts bagi pertumbuhan ekonomi di Indonesia

            1. Kehadiran Dunkin’Donuts dianggap sebagai salah satu varian dari jenis-jenis donut yang ada. Selain itu, adanya segmentasi pasar tersendiri dari Dunkin’ Donut, membuat eksistensi usaha-usaha donut lokal yang ada tetap terjaga.

            ·       Dampak negatif dari Franchising Dunkin’Donuts bagi pertumbuhan ekonomi di Indonesia

            1. mampu memicu persaingan dengan pengusaha lokal. Hal ini mungkin juga sejalan dengan prinsip liberalisme dalam tulisan Adam Smith (1776), yaitu teori The Invisible Hand. Smith yakin pada sifat baik manusia yang mau bekerjasama dan konstruktif.

            ·         Sumber data