Rabu, 23 Oktober 2013

Menjelajah Kebun Raya Bogor



Sudah lama blog ini terbengkalai, kalo di dunia nyata mungkin sudah lumutan. Kali ini saya bercerita tentang liburan atau jalan-jalan, namun semenjak kuliah sudah lama saya tidak berlibur bersama keluarga entah karna sibuk dengan karirnya masing-masing
Ceritanya dimulai saat UTS, karena 1 hari hanya 1 mata kuliah dan masih pagi pula, ada teman yang ngajak jalan-jalan yaa sekalian menyegarkan otak agar lancar kembali digunakan. Tujuan perjalanan kali ini adalah “Wisata Kebun Raya Bogor” siapa coba yang ngga kenal Kebun Raya Bogor, sebuah kebun botani besar yang terletak di Kota Bogor, Indonesia. Luasnya mencapai 87 hektare dan memiliki 15.000 jenis koleksi pohon dan tumbuhan, disana juga ada pusat-pusat keilmuan seperti Herbarium Bogoriense, Museum Zoologi Bogor, dan Pustaka
Setelah ngumpul-ngumpul “berasa banyak padahal cuma ber-7” berangkatlah kita ke stasiun yang terdekat dari kampus, menunggu transportasi baja kotak besar yang berlalu lalang di atas 2 bilah besi selalu berpasangan. Dan akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga, suasana dalam kereta tidak begitu ramai karena bukan jam sibuk dan arah bogor pula, selama tiga puluh menit melewati beberapa stasiun, sawah, jembatan, pemukiman penduduk, sampai akhirnya tiba di stasiun terakhir “Stasiun Bogor”. Pas udah sampe sebenernya males turun, udah lengket di bangku kereta tinggal bobo-bobo ganteng deh
Jarak dari stasiun ke kebun raya bisa dibilang tanggung (kalo jalan kejauhan kalo naek angkot kedeketan) karena kelebihan duit jadinya naek angkot “hahaa” sekitar lima menit desek-desekan karena porsi 6 orang malah diisi 7 orang sampailah saya di pintu masuk (entah pintu berapa) Kebun Raya. Bertanya kepada receptionist alias penjaga penjual tiket kebun raya dan membeli beberapa lembar tiket alhasil diizinkan untuk bisa menjelajah seluruh isi kebun yang amat luas di Bogor


Tempat pertama kunjungan saya adalah Istana Bogor, walaupun kebunnya dibuka secara umum namun Istananya tidak dibuka untuk umum jadi cukup melihat bangunan megah berwarna putih besar dari kejauhan. Berjalan dan terus berjalan tujuan selanjutnya Museum Zoologi Bogor, melewati pohon-pohon yang berumur puluhan tahun, udara yang sejuk, tapi agak sedikit panas karna sudah siang tempat yang dituju terlihat juga, saya disambut tulang ikan paus putih yang berada di ruangan 6x20 meter “untung ga ada tulang pinokio didalemnya”. Berbagai koleksi fauna ada disini namun tidak dalam bentuk hidup, mulai dari mamalia, ikan,burung, reptil, hingga serangga terkecil-pun ada
          
   

Terik matahari semakin menjadi-jadi, sudah jam makan siang pula, karena tidak ada yang membawa bekal makanan seperti nasi, perut ini hanya di ganjal beberapa gorengan khas bogor “tapi rasanya sama aja kaya gorengan depok” istirahat sejenak, tidak lupa melakukan sholat wajib 5 waktu saya dan kawan-kawan kembali berjalan menuju ke tempat berikutnya yaitu Jembatan Gantung Merah, kurang afdol rasanya kalo belum sampai di jembatan merah yang fenomenal   
Kaki sudah terasa letih, betis sudah agak membesar, dan otot-otot kaki menegang, berfoto-foto dan beristirahat sejenak karena rute yang dilewati lumayan jauh, melewati jalan aspal panjang yang dikelilingi pohon-pohon tinggi dan rindang, sebelum sampai saya melewati sebuah makam yang terawat rapih dan apik, entah makan siapa karena tidak sempat membaca keterangan yang tertera di pintu masuk pagar makam

    

Sesampainya di jembatan merah ternyata ada yang sedang berfoto untuk keperluan pernikahan istilah kerennya photo prawedding. Oia ada mitos menarik yang beredar, bila dua sejoli atau sepasang kekasih melewati jembatan ini berjalan menyebaranginya maka di percaya hubungan percintaanya akan berakhir.Namun sebaliknya, bila berjalan di Jembatan bukan bersama kekasih melainkan hanya teman, jika berpacaran dipercaya akan langgeng dan bahkan bisa sampai ke jenjang pernikahan, boleh percaya boleh tidak itu kembali ke kepercayaan kalian masing-masing

    
Setelah puas melihat dan menyeberangi jembatan merah, perut terasa memberontak lagi, sudah sore juga dan belum bertemu nasi sebutir-pun, rintik hujan mulai turun yaa namanya juga kota hujan wajarlah sore-sore cerah dalam sekejap bisa turun hujan beruntung hujannya ngga deres hanya gerimis, sebenarnya masih banyak tempat yang belum sempat dikunjungi, perjalanan dilanjutkan menuju pintu keluar dan ternyata satu-satunya pintu terbuka adalah pintu yang dilewati saat pertama masuk kebun raya, dengan melihat peta kecil di brosur jarak tempuh menuju pintu lumayan jauh, dan berjalan kaki lagi
Setelah berjalan, berjalan dan berjalan melewati sedikit jalan berkelok dan menanjak sampailah di pintu keluar, saya dan kawan-kawan memutuskan menuju mall yang terletak tidak jauh dari kebun raya untuk mencari tempat makan. Perut sudah terisi nasi, energi juga sudah kembali pulih saatnya kembali melanjutkan perjalanan pulang menuju stasiun Bogor.


Itulah sedikit kisah jalan-jalan saya bersama teman kampus, jika ada perjalanan lain yang menarik untuk diceritakan mungkin akan saya ceritakan, mohon maaf apabila masih adanya kalimat atau kata-kata yang bercampur aduk dengan bahasa keseharian. Sekian dari saya, terima-kasih.